Friday, November 5, 2010

Benarkah Teknologi Membuat Kita Jadi Frontal dan Labil ?

          Baru saja sore tadi saya menulis tweet thanks a bunch for technology called internet. :D’, karena saya merasakan sekali gimana internet sangat-sangat mempermudah urusan sehari-hari. Mulai dari hal kecil seperti saling mengirimkan email tugas kuliah dan bahan ujian, update info lewat timeline twitter,sampai belajar tentang banyak hal. Ibaratnya batasan-batasan teritori itu bisa diloncati dengan mudah. Eh, tiba-tiba saja saya jadi agak iba setelah membaca blog salah satu artis senior. Yang notabene artis ini sudah berumur, berjilbab bahkan menjadi anggota DPR. Saya menilai beliau sebagai sosok perempuan smart, tapi langsung penilaian itu hancur total setelah membaca tulisannya. Ya ampun, bisa-bisanya perempuan berpendidikan membongkar aib rumah tangganya sendiri di depan publik. Bahkan pakai jelek-jelekkin artis lain. –“
Mengutip kata-kata Hermawan Kertajaya, saat ini yang paling berpengaruh ada tiga hal. Women, Youth, and Netizen. Iya netizen, kita para blogger, tukang ngetwit, intinya internet user. Dan bisa dilihat sendiri kan, teknologi internet pasti punya dua sisi, positif sekaligus negatif.
            Salah satu yang bisa ditangkap, kayaknya memang teknologi bikin kita jadi semakin gampang terseret ke lembah hitam bernama Frontal dan Labil.  Contohnya bisa dimulai dari blog, oke ini media bagus buat yang suka nulis. Entah share informasi atau sekedar menumpahkan uneg-uneg pribadi. Tapi apa iya sih kita bisa menulis sesuka hati tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Ingat, ini bukan buku harian pribadi yang bisa disimpan di bawah kasur atau di selipan baju lemari lho! Si artis itu misalnya, gila ya dia nulis-nulis kayak gitu, apa dia lupa berapa jumlah user yang bisa mengakses ceritanya. Tak terbatas. Dengan adanya word-of-mouth apa dia nggak takut image-nya dan keluarganya jadi anjlok? Atau emang sengaja dibikin untuk menaikkan popularitas?
            Kemudian social networking semacam facebook dan twitter. Sebenernya apa sih fungsi social networking? Curhat publik? Menarik simpati orang dengan nulis status aneh-aneh? Tidak tahukah kalian, setiap postingan yang kita buat sama dengan memberikan kesempatan orang untuk menilai siapa kita. Yah kadang-kadang memang apa yang ditampilkan di situ nggak sama dengan kenyataan alias fake image. Tetep aja orang lain akan lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dengan mata. Lah saya kok jadi inget seseorang yang doyan ngetwit freak, apa ya pikirannya sampai bisa kayak gitu. Mungkin dia lupa dengan masalah kredibilitas.
            Balik lagi ke masalah kekuatan besar internet. Lama-lama saya mikir, jaman sekarang kita cenderung jadi orang Labil, Frontal dan Caper. Status atau tweet  dibikin buat di komen orang, kadang sampai sengaja nulis yang berlebihan. Sekedar cari perhatian. Kenapa saya bilang labil? Sekarang kita bisa dengan gampang ditebak emosinya, entah marah-marah, galau atau jatuh cinta. Lagi marah langsung ditulis, lagi badmood langsung di tulis.  Ha ha. Frontal? Iyalah, maki-maki orang, nyindir orang, perang status semua dilakukan dengan enteng. Dan hebatnya, orang-orang yang nggak berkepentingan jadi ngerti. Oh si A lagi berantem sama si B, oh rebutan si C toh. Semacam kehilangan privasi.
            Coba pas belum ada twitter, friendster, atau facebook, pasti nggak banyak yang tahu kita lagi sebel atau sedih. Nggak banyak juga pasangan-pasangan yang berantem perkara pacarnya di wall sama si mantan. :p Nggak galau gara-gara tahu hal yang seharusnya nggak perlu tahu.
            Jadi, apa saya sok-sokan? Mungkin. Tapi saya nggak bilang kalau nggak boleh lho. Jangan salah, saya sendiri juga jagonya curcol alias cuhat colongan. Entah dengan tweet implisit maupun eksplisit. Jangan salah, berbagi adalah hal yang menyenangkan. Bisa sedikit melegakan hati dengan mengeluarkan uneg-uneg. (:
Mengalami yang namanya di unfollow juga pernah, mungkin karena saya dianggap nyampah banget. Di remove dari facebook juga pernah gara-gara selisih paham. Nah nah, apa dengan begitu saya bisa dinilai punya track record buruk? Boleh boleh aja lah. Cuma, saya jadi sangat belajar, untuk nggak menulis aneh-aneh. Untuk membatasi diri dan selektif memilih kata. Yah, ada baiknya kita saling mengingatkan. Kalau internet belum bisa menyediakan filter yang tepat untuk menyaring aneka macam info didalamnya, kenapa nggak kita aja yang memfilter diri sendiri? Kalau sekarang kita menjelma jadi manusia frontal dan labil, kayaknya nggak ada salahnya untuk sedikit menahan diri. Demi toleransi dan empati ke orang lain juga. Oiyaaaa, nggak usah sungkan mengingatkan saya kalau ternyata saya kumat labil lho! :D (dee)


Pengen tahu seberapa labil saya? Follow aja akun twitter saya >>> @frappiocoffee   :p           

1 comment:

  1. Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :) inspiratif..!!!

    ReplyDelete