Wednesday, October 27, 2010

Balancing : Quality or Quantity (?)

Hai hai.. Setelah berjuta-juta ide nulis hilang dimakan kemalasan. *lebai* Akhirnya saya memutuskan buat nulis yang satu ini. Yang akhir-akhir ini lumayan bikin kepikiran juga sih. Oya, sebelumnya silahkan lho mengkambinghitamkan twitter  yang sukses bikin saya 'selingkuh' dari si blog. Kalau dipikir-pikir saya lumayan aktif nge-tweet tiap hari. Simpel aja, soalnya saya bisa buang-buang kata cukup dg 140 karakter. Nggak kayak nge-blog yang kudu merangkaikan banyak kalimat. Side effect-nya jadi males banget nulis yang panjangan dikit. Payah!

Next, ada apa sih dengan kata-kata balance alias seimbang? Kok jadi tertarik ngebahasnya. Buat saya, itu hal penting yang seringkali kita abaikan. Soalnya ketika sudah terlalu asyik sama satu hal, pasti deh hal-hal lain terlihat remeh, terlupakan bahkan. Bukannya mau nyalahin siapa-siapa juga sih, soalnya life is about changing juga kan. Misalnya aja nih, suka ada kasus temen lama yang ngerasa dilupakan karena si sahabat punya temen baru. Itu kan bentuk perubahan. Bisa jadi si sahabat yang memang kelewat asyik, atau sebenernya cuma sebatas ketakutan si temen lama.
Ada lagi, tentang kuliah dan kerjaan. Biasanya sih kalau orang sudah kerja itu bakalan lupa atau minimal jadi meremehkan kuliahnya. Ya ya, ternyata pernyataan itu nggak salah lho. Saya punya pengalaman pribadi dengan hal semacam itu. Sebenernya sih bukan karena kemudian menganggap kuliah itu nggak penting *membela diri* tapi memang nggak gampang biar kuliah sama kerja bisa jalan barengan. Pasti ada yang dikorbankan. Saya dulu ngorbanin kuliah buat kerjaan, temen saya ada yang ngorbanin kerjaannya buat kuliah, jadinya ditempat kerja dia sempet juga sih dapet pandangan miring. *dipandang sambil jungkirbalik* :p Kalau ditanya mana yang lebih benar saya yang ngorbanin kuliah buat kerjaan atau teman yang ngorbanin kerjaan buat kuliah, jawabannya nggak ada yang lebih benar.
Banyak banget kejadian-kejadian kecil atau gede yang membuat kita terjebak pada pertanyaan bagaimana benarnya? Karena ini bukan masalah mana yang lebih penting dari mana atau mana yang harus diprioritaskan. Buat saya sih, ada hal-hal yang harus berjalan beriringan.
Nah, pasalnya keseimbangan atau balancing dalam hidup itu bukanlah besaran yang bisa diukur dengan satuan tertentu. Bukan panjang, massa, atau waktu. Jadi kita nggak bisa nyebut berapa gram perhatian yang harus kita berikan untuk satu orang dibandingkan orang lain. Gitu kan ya? He he.
Terus gimana dong cara mengukur apakah aspek-aspek hidup kita udah seimbang satu sama lain? *berat!* Buat saya, dalam hal ini pengukuran dilakukan secara kualitas bukan kuantitas. Jadinya, saya lebih setuju apakah sebuah percakapan itu bermutu atau tidak, ketimbang seberapa lama sebuah percakapan itu terjadi. Atau, dalam persahabatan misalnya, bagi saya bukan masalah seberapa tinggi frekuensi ketemuan itu terjadi. Tapi seberapa mampu keduanya saling menghargai dan menjaga persahabatan itu. Masa sih kalau temenan dan udah lama nggak ketemu terus jadi nggak berteman lagi? Sayang sekali kan. Ah, kayaknya ini lagi-lagi cuma sekedar pembelaan diri pribadi ya. :p
Bukannya kuantitas itu nggak penting, teteplah penting buat menyeimbangkan hidup. Tapi kalau dibikin daftar, kualitas saya taruh di urutan pertama, baru di urutan kedua. Sepakat?

Saya punya favorit quotes yang saya bikin buat mengingatkan diri sendiri, always make it balance between hablum minallah and hablum minannas. (: Tambahannya, must make sure to balancing between my personal life and my social life. (dee)

No comments:

Post a Comment