Sunday, May 23, 2010

Kalau Papa Ikut Bicara

Saya jarang bicara masalah cinta-cintaan sama ortu, bukan apa-apa tapi saya selalu ngerasa belum waktunya. Ah masih kecil nanti saja. Selalu seperti itu. Paling saya ceritanya juga sambil guyonan, jarang yang serius-serius gitu. Makanya saya amazing banget waktu si papa tiba-tiba nanya.

"Lho kamu masih jalan ta sama si itu?"
"Ha? Apa sih pa?"
"Hayo udah bubaran ya?" Ujar papa menggoda. "Ini lho tissue, kalau mau nangis gapapa kok," masih aja dilanjutin, sekarang sambil nyodorin kotak tissue. Asyeeem, ayahanda macam apa yang menggojlok anaknya sedemikian rupa.
"Halah, nuduh nih. Aduh papa deh, nanya-nanya gitu segala."
"Kenapa to? Kamu nggak yakin ta sama dia?" Kayak wartawan lagi nyari berita ke artis nih.
"Dia pa yang nggak yakin sama aku. Abis akunya kayak gini sih. Wakakakka," saya jawab sambil ketawa.
"Hussh...malah guyon. Emangnya kriteria kamu kayak apa to?" Aduh mampus, jangan dijodohin pa. Nggak siap mental. *GeEr*
"Kayak apa? Ya nggak kayak apa-apa. Nggak punya kriteria khusus sih."
"Kalau dia kriteria kamu bukan?"
"Hemm, lumayan sih."
"Pasti bukan kriteriamu ya," tebak si papa ngasal.
"Ini sebenernya nanya apa ngasih vonis sih. Kok bisa papa bilang gitu?"
"Iya, soalnya kalau kamu beneran suka pasti kamu bakal perjuangkan dan pertahankan mati-matian. Nggak santai-santai kayak gini," komentar si papa enteng. Gubrak! Iya deh pa, dulu papa pernah berjuang mati-matian buat si mama.
"Yeeee, kok disamain sama papa.Aku kan perempuan," protes saya.
"Ya nggak papa to perempuan maju duluan, gengsinya disimpen sana," saran si papa yang tiba-tiba ditimpali si mama.
"Aduh, masa anak cewek disuruh maju duluan. Wes wes nduk, nyari yang lain aja kalau dia nggak mau sama kamu. Kok repot-repot," sambil bicara si mama sibuk ngoles-ngoles wajah pakai entah apa itulah macam-macam kosmetik.
"Lho ya jangan, harus berjuang dulu," ujar papa.
"Nggak usah, biar dia nunggu aja," bantah mama.
Lalalalala, perlahan-lahan saya menyingkir dari medan pertempuran. -.-

"Dek, gimana sih mama sama papa ini, kasih saran nggak sinkron," keluh saya sebal.
"Walaaaah, aku nggak ikut-ikut ya mbak. Dadaaa...." si adek malah ketawa-ketawa ngikik.

Berjuang ya? Mungkin emansipasi wanita menuntut saya harus bisa membangun seribu candi sebelum matahari terbit, atau merancang Taj Mahal versi baru sebagai tanda cinta. Ha ha. :D

Ah, anakmu ini masih belajar mengeja kata yang sama kok,



No comments:

Post a Comment