Sunday, April 18, 2010

(Mungkin) Terlahir Untuk Bahagia

Perut saya sekarang rasanya sakit banget gara-gara kebanyakan ketawa. Sebenernya ketawanya campuran antara geli, sebel sama kecut. Apalagi akhir-akhir ini saya banyak bersikap apatis. Bukan bukan sahabatnya puitis, dan menurut saya juga nggak egois. Lho apa sih? Jadi bisa merasa lagi adalah sebuah kabar baik buat saya pribadi. Heuuww...
Hemmm, selama ini saya sepakat bahwa hidup adalah konsep. Sebuah konsep yang harus dijalani. Tapi kemudian sekarang saya jadi mikir, memang yang namanya teori normatif itu lebih kedengeran masuk akal. Misalnya saat kamu dijahatin ya kamu marah, saat diberi kebaikan maka balaslah kebaikan itu. Kenyataannya lho nggak kayak gitu, hidup itu berisi rentetan peristiwa berdasarkan teori positif alias sesuatu yang riil. Yah mungkin sudah waktunya menghapus semua konsep itu lalu menjalani hidup sebagai sebuah eksekusi. Tanpa embel-embel seharusnya begini dan seharusnya begitu.
Oke balik lagi ke masalah konsep, saya baru tahu ada dua teori yang dirumuskan bego-begoan ala saya dan para kurcaci, eh salah ding, saya dan sahabat-sahabat saya. Di dunia ini ada dua tipe orang.
Satu, orang yang MEMANG TERLAHIR UNTUK SELALU BAHAGIA. *bawa golok*
dan kedua, adalah orang-orang yang (MUNGKIN) TERLAHIR BAHAGIA, (SEHARUSNYA) TERLAHIR BAHAGIA, atau (SEMOGA) TERLAHIR BAHAGIA. *celingukan*
Kemudian saya jadi penasaran, eh orang kayak apa sih yang bisa dapet cap Terlahir Untuk Bahagia. Lha terus apa yang lain Terlahir Nggak Bahagia. Duh hari gini kok masih ada yang mikir kayak gitu, naif banget, plus rada cupet tuh pikirannya. Oke, akhirnya kami menciptakan studi kasus ala FTV alias rada ngayal tapi masuk akal buat melihat apa yang mungkin terjadi saat si Terlahir Untuk Bahagia, kita sebut si Menik aja ya, disandingkan dengan si (Seharusnya) Terlahir Bahagia a.k.a Minyu. *kehabisan stok nama*

Kejadian 1 : Pagi hari saat seharusnya Minyu dan Menik berangkat ke kampus tiba-tiba hujan turun sangat deras. Mau nggak mau mereka tetap harus berangkat. Si Menik ini punya wajah cantik, badan langsing, otak lumayan encer dan ortunya cukup berada. So, dia tinggal masuk mobil full AC, nyalain musik jazz, pakai headset buat nelpon temen. Mobil Menik kemudian berhenti di lampu merah. Di sebelahnya ada si Minyu, tampang pas-pasan (pas cantik, aha!), badan standar, otak pas-pasan, dan kemana-mana bawa motor. Belum sampai kampus badan Minyu sudah kecipratan air hujan sana-sini. Soalnya jas hujan aja nggak sanggup ngelindungi dari air. Plus pas ada telepon masuk, dengan ribetnya si Minyu harus ngangkat telepon dengan cara nyelipin handphone diantara kuping dan helm. Sampai kampus Menik masih cantik dan wangi, Minyu kucel dan basah. Duh FTV banget sih ceritanya. Nggak sekalian aja mobilnya Menik nyipratin Minyu biar tambah mangkel. Ehehehe...

Kejadian 2 : Hari sudah larut malam. Menik dan Minyu sama-sama nggak bisa tidur di rumah masing-masing. Well, si Menik dengan mudah menelepon minta di ninabobokkan. Sedangkan di Minyu, boro-boro minta di ninabobokkan, dia bilang nggak bisa tidur aja paling cuma diketawain. Alhasil Minyu pasrah cuma bisa kedap-kedip guling-guling di atas kasur.

Kejadian 3 : Mungkin Minyu sama Menik ini sebenernya kompak, soalnya kali ini mereka sama-sama sakit. Saat tahu Menik sakit, padahal cuma flu biasa, ada yang langsung panik datang ke rumahnya dengan membawa obat dan bubur ayam. How cute kan? Tapi coba lihat deh sama nasib Minyu, dia bilang sakit feedbacknya adalah sebuah SMS singkat bertuliskan, cepat sembuh. Mau nggak mau Minyu kudu ngesot ke apotik buat nyari obat.

Hahahaha. Teman-teman saya serempak bilang ini nggak adil. Kenapa harus ada perlakuan yang beda kayak gitu. Apa karena nggak bisa lihat Menik susah? Padahal hidupnya sudah bergelimangan kebahagiaan. Terus si Minyu kok kayak orang yang kudu nerima apa adanya gitu sih? Berasa teman tiri atau apalah itu namanya.
Oke, jadi yang sebenarnya terjadi adalah kita nggak boleh membanding-bandingkan diri sama orang lain. Nggak ada habisnya, because life would looks sooo unfair. Makanya itu, saya benci kalau ada orang yang bilang si ini Terlahir Untuk Bahagia hanya dengan duduk manis dan mengumbar senyum. Sementara si itu harus kerja keras banting tulang biar bisa bahagia dikit aja. *senyum sinis*
Mari kita coret konsep bodoh itu. Soalnya saya lebih suka bilang kayak gini,
Kita Semua Dilahirkan Hakikatnya untuk Meraih Kebahagiaan Masing-masing
.
Percaya deh, bahagianya saya, kamu, atau mereka itu berbeda-beda. Menik ya Menik, kebetulan dia beruntung karena cantik, pintar, baik, dan kaya. Bukan dia yang milih dan ngatur biar kayak gitu, jangan salahin Menik dong. Meskipun rada kesel juga yah dengan segala kemudahan itu ada yang masih nggak bisa lihat dia susah. Bonusnya dia lah, ngapain kita yang ribet. *apatis* Minyu ya Minyu, nggak cantik, nggak terlalu pintar, hidup sederhana tapi tetap bisa bahagia.

Inget kata bang Denny Sumargo pas di take celebrity out, Hoho. Dua rasa yang harusnya paling diingat adalah takut dan syukur. *peluk Denny* takut gagal, takut kalah, takut Tuhan, dibarengi dengan rasa syukur meskipun didera cobaan kayak apa juga. Setuju kan??? Oke, lagi-lagi bicara tentang konsep secara normatif.

Now, let's try this. Lihat di depan kaca terus bilang sama diri-sendiri, saya sudah bahagia bisa dilahirkan dengan sempurna di dunia ini. Banyak yang kurang beruntung dan mereka justru bisa legowo menjalani hidupnya. Yep, kita mulai bersyukur dari hal paling kecil.
Kalau saya sih punya kesenangan pribadi, lihat orang sedih saya bahagia. Hakaka. *keluar tanduk* Nggak sih, bahagianya saya adalah . . . (blank page) nggak tahu, bahagia itu ilusi dan membingungkan. Huwooohuwooo...

Eh eh kalau lagi sedih coba dengerin lagunya si Glenn yang Salam bagi Sahabat deh. Saya suka liriknya yang bagian ini :
Hidupmu Indah
Bila Kau Tahu
Jalan Mana Yang Benar
Harapan Ada
Harapan Ada


atau lagunya Once yang juga dinyanyiin sama Rio Idola Cilik, judulnya Symphony yang Indah. Liriknya :
Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku ‘kan bahagia



Ayo bikin janji sama diri sendiri buat selalu BAHAGIA. Soalnya bahagia itu mudah dan murah. :*
(grrr,am I happy enough??? pertanyaan seratus juta. hehe)

X.O.X.O
-dee-

3 comments:

  1. Jadi, begini ya Dek Minyu.. :))
    ya ampun namanya itu loh.. *ngakak guling-guling*

    ReplyDelete
  2. waaaa...malu deh...aku bukan minyu lho mbaak. hehehehhehe...juga bukan menik. :P aku adalah power ranger. lho?

    ReplyDelete