Saturday, February 20, 2010

Rumput Tetangga (Tidak) Selalu Lebih Hijau

Place : Home Sweet Home
Mood : Undefine

Song : Tompi - Tak Pernah Setengah Hati


Hello again! It's a very long time didn't visit my own blog. Yap, so much things happened in this hectic life. Salah satunya yaitu melakukan maintenance hati dan otak secara besar-besaran. Ganti spare part sana-sini
, rombak hardisk plus memori, dan bismillah semoga ada progress bagus. Biar nggak sia-sia dong, biayanya nggak murah sih. Well, saya juga habis mengalami liburan yang menyenangkan. :D Hmm, apalagi ya yang baru, lagi suka dengerin Tompi sih. Liriknya sederhana tapi keren. Sampai di repeat bolak-balik, semoga bang Tompi nggak sakit tenggorokan. Maap bang! Terimakasih sudah menghibur saya :D



Tentang judul itu sebenarnya sudah lama kepikiran di kepala saya, pengen ditulis tapi nggak jadi-jadi. Biasanya kebanyakan ide, nah sekarang kebalikannya. Saya nggak punya ide tapi pengen nulis. Inilah satu-satunya yang terlintas. Apalagi kemarin saya sampai keselek gara-gara denger komentar polos dari teman saya. Dan komentar semacam itu nggak terjadi cuma sekali ini aja. Masih seputar cinta-cintaan sih, emang dasar anak muda. Hoho.

"Duh enak ya jadi kamu, ada yang merhatiin sampai segitunya. Kalau aku sih nggak mungkin digituin sama dia," keluh seorang sahabat.

"Wih, senengnya bisa ketemuan setiap hari. Huhu. Pengen deh kayak kalian," keluh sahabat yang lain lagi.


"Kalian adem ayem ya, kapan aku bisa kayak kamu gitu Det. Pasti deh enak," celetuk seorang teman.


"Senengnya kamu, dia kan orangnya penyabar banget. Nggak marah-marah melulu. Pasti deh kamu nggak pernah dibikin jengkel," tutur teman yang itu.


"Aku selalu iri lihat kalian, rasanya kok kamu enak gitu ya. Nggak kayak aku," asli ini pengakuan paling gres yang saya denger dua hari yang lalu.


Dalam hati saya cuma bilang, alhamdulillah kalau orang lain bisa menilai seperti itu. Salah satu penyakit kita nih, emang sukanya ngerasa nggak puas aja sama keadaan diri-sendiri. Jangan salah, saya sendiri suka dihinggapi pikiran seperti, "Duh kok aku nggak kayak gitu. Ah seandainya bisa gini. Ih, enaknya jadi kamu." Kenapa oh kenapa? Iyaa, soalnya kita cenderung membanding-bandingkan. Itu tuh, istilah kerennya si rumput tetangga yang selalu aja terlihat lebih ijo, lebih seger, lebih rimbun. Betul nggak?
Mending kayak saya deh, punya tetangga yang rumahnya nggak ada rumputnya. Nggak perlu iri-irian segala jadinya. He he.
Kalau udah muncul pikiran kayak gitu, buru-buru aja mensyukuri apa yang kita punya. Soalnya kadang orang lain juga pengen kok punya rumput kayak kita. Siapa tahu kan tetangga kita rumputnya sintetis, makanya keliatan ijo terus. He he. Kalau terus menghitung, membandingkan, menyamaratakan, kita akan terus-menerus merasa jadi orang paling malang sedunia. Rugi dong! Kecuali dalam beberapa kasus mungkin dihalalkan, apalagi kalau bikin kita lebih termotivasi. Misalnya saat lihat prestasi orang lain dan kita nggak mau kalah sama dia. Itu baru boleh. Rada susah kalau iri masalah kehidupan pribadi.

Kemudian saya jadi inget sama prinsip seorang teman.
"Mereka hanya perlu tahu saya bahagia. Selebihnya semua adalah urusan saya. Terserah mereka mau bilang apa, ini saya yang menjalani. Mereka cuma lihat luarnya, tapi nggak pernah terlibat langsung sampai akarnya. Nggak seorangpun berhak mencampuri."
Waww, kesannya gaya banget ni orang. Sok-sokan deh. Minta ditendang. Tapi setelah dipikir-pikir memang ada benarnya. Malahan saya memutuskan mengikuti alirannya. Haha, kayak bikin sekte aja. Tumben teman saya ini lumayan pinter. Padahal kalau ngomong sama dia bawaannya mindset otak negatif melulu, terus semua-semua wajib dilogiskan. Beda kalau ngobrol sama teman yang satu lagi. Sama dia pikiran bawaannya positif terus. Karena dia punya kebaikan hati yang luarbiasa besar. Makanya saya butuh mereka berdua, biar seimbang. :D
Balik lagi ke masalah rumput-rumputan. Memang kita cuma melihat warna hijaunya aja kan. Tapi penilaian berdasarkan pandangan aja nggak pernah cukup. Jadi mari merawat rumput di halaman sendiri dengan cara masing-masing. Silahkan kalau memang mau saling berbagi cerita tentang pengalaman merawat dan memberi pupuk yang pasti berbeda-beda.

Today Lesson :
Tersenyum untuk melegakan hati dan melenyapkan arogansi. (:

Kalau ada orang berbuat jahat, bukan berarti disahkan untuk ikut-ikutan jadi jahat.
Selalu ada alasan untuk setiap tindakan.


Note :
Hanya ada dua pilihan saat kita merasa lelah.
Beristirahat sejenak atau benar-benar berhenti.

Ikhlas untuk pilihan apapun. (:

No comments:

Post a Comment