Wednesday, December 23, 2009

Second Choice : Spare Part?



Seorang teman, sebut saja bunga. Eh jangan deh, dia mah gede banget. He he. Kalau bunga kan kesannya imut bin feminim. Apa ya, sebut saja dia cemara. Oke kan, besar dan tinggi. Cemara suatu pagi mengirimkan pesan singkat pada saya. Isinya begini,
Ternyata kita sama-sama jadi pilihan kedua. Huhu.
Saya tersentak. Pilihan kedua, second choice, cadangan, spare part, hayo hayo apalagi bahasa lainnya. Lalu saya jadi berpikir, wah kasihan banget ya cuma jadi pilihan kedua. Artinya apa, kita bukan yang utama. Bahaya deh, kalau dia negatif dan saya ikutan negatif maka hasilnya kita berdua terjerumus dalam lembah hitam bernama kelebaian kaum wanita. He he. Putar-putar otak lalu saya kirim balasannya.
Tenang aja, kamu bukan yang kedua, Dia sudah lama suka sama kamu. Cuma masalah waktu aja kok. Kabar baiknya, dia sekarang sudah jadi milikmu. Nikmati saja. (:
Dan sebuah SMS balasan bernada lega saya terima. Fiuhh, semoga dia benar-benar tidak khawatir lagi dengan masalah nomer satu, dua, dan tiga ini. Ternyata gampang menghibur orang. Seperti meniup, fuhh fuhh...ilang sudah sedihnya dia. Beda dengan kasus menghibur diri sendiri, butuh penanganan kompleks. Tentang masalah jadi yang kedua ini, saya sempat merasakan hal itu. Tapi setelah melalui proses, sekarang jadi agak-agak kurang setuju. Kalau untuk urusan hati, urutan nomor itu tidak ada. Bukankah semua menempati porsi masing-masing. Dengan kadar dan prosentase berbeda-beda.
Lagipula, kayak iya kita nggak pernah melakukan itu aja. Memberi nomor-nomor. Kayak orang ikut SPMB, ada kan pilihan satu, dua, tiga. Dan saat pilihan itu jatuh bukan pada yang pertama, bukan berarti pilihannya jelek kan. Jadi inget pas saya dulu daftar SMA. Pilihan pertama, SMAN 5 Surabaya, pilihan kedua, SMAN 6 Surabaya. Eh meleset, saya keterima di SMAN 6 Surabaya. Menyesal? Enggak. Merasa buruk? Nggak sama sekali. Disitu saya toh bisa dapet pengalaman-pengalaman berharga. Bisa mengukir prestasi juga, yang belum tentu bisa saya dapetin kalau saya keterima di pilihan pertama.
Jadi, kenapa harus takut dengan pilihan kedua? (:
Belum tentu si nomor dua tidak lebih hebat.

3 comments:

  1. pilihan 1, 2, 3 ???
    terkadang itu bukan urutan, hanya lah sebuah penanda.
    gimana kalo angkanya diganti huruf...
    pasti kesannya langsung berubah.

    overall, like this lah

    ReplyDelete
  2. yawes, nanti dibikinin deh yg membahas tentang urutan huruf, A, B, C.
    hmmm, akhirnya di komenin juga. setelah melalui pemaksaan. hoho. +D

    ReplyDelete
  3. hahahahaha...
    ngak mrasa dipaksa kok.
    masa nyuruh sambil pegang pisau itu maksa.
    ndak kan
    :D

    ReplyDelete