Friday, October 2, 2009

Filosofi Baju

Astaghfirullahaladzim, , , waktunya beristigfar banyak-banyak. Akhir-akhir ini rasanya hidup saya semakin tak beraturan. Semua rencana dan targetan nggak ada yang jalan. Malah cuma menjalani hidup seadanya. Nista banget sih! Coba liat aja, berkali-kali aku ngemail naskah tapi nggak di -attach naskahnya. Alias cuma ngirim email kosongan. Jadinya kena deh ditegur editor. Mau ngapa-ngapain selalu lupa mendadak. Belum lagi setumpuk naskah yang nggak beres, satu naskah satu hari pertanda kemunduran. Mau nulis blog angin-anginan pertanda kemalasan. Kelas kuliah nggak dimasukin gara-gara ketiduran. Tugas-tugas kuliah nggak satupun terjamah. Belum lagi sudah dekat UTS tapi materi kuliah masih di luar kepala, bukan gara-gara bisa di luar kepala. Tapi asli emang masih di luar kepala.

Nah, kalau sudah begini yang saya butuhkan adalah teman ngobrol. Biasanya dengan ngobrol saya bisa sejenak ngelupain semua yang numplek blek di kepala saya. Apalagi saya ini tipikal orang yang bawaannya jarang serius. Tuhkan, aslinya saya pengen nge-posting ttg jalan-jalan Lebaran sama Kuliner Malam tapi nggak papa deh. Yang ini dulu saja.


Jujur, setiap kali ngobrol beda orang pasti beda yang didapatkan. Tapi saya selalu berusaha memetik pelajarannya meskipun orang bilang saya doyan gosip. Su'udzon aja nih. Wong yang diomongin tentang diri sendiri kok. Jadi nggak dosa kan?
Saya baru aja dapet analogi yang cukup lucu. Sampai saya dan sahabat saya mbak Nanda ngakak sendiri waktu membicarakannya. Buat saya, that simply thing really entertain me. Yang paling penting, analogi itu ada benarnya kalau disangkut pautin sama idup saya belakangan ini.

Jadi, mbk Nanda bilang kalau misalnya kita memilih baju di Mall memang harus ada pertimbangan. Setelah jatuh hati sama pilihan tertentu baru deh kita memutuskan buat beli. Sayangnya, kadang saking terlalu banyak pertimbangan baju itu sudah keduluan di serobot orang. Andaikan orang itu cuma sekedar nyoba-nyoba mungkin kita masih punya kans buat tetep membelinya. Cuma, kita butuh waktu nungguin orang itu nyobain bajunya. Sambil nunggu pasti kita punya perasaan deg-degan. Takut kalau ternyata kita nggak punya kesempatan memilikinya. Saat itu pilihan kita cuma dua, mau tetep nunggu berdiri tapi capek. Dengan harapan masih bisa membelinya. Ataukah kita langsung memutuskan memilih baju yang lain. Baju yang belum dilirik sama pembeli lain. Well, mentang-mentang cewek doyang belanja analoginya ndak jauh-jauh dari masalah belanjaan yah. Hm, saya jadi mikir enaknya ngantri di depan kamar pas tapi dengan harapan tipis ataukah mending move on ke toko baju lain. Sayangnya saya lagi ndak punya duit, jadi mendingan pulang ke rumah aja deh. Hohooo. maybe next time saya bakal balik lagi ke toko itu dan berharap bajunya masih rapi tergantung di rak.
*nggak-mau-usaha-tingkat-tinggi*


------------
If you’re not willing to sound stupid, you’re not worthy of falling in love - A Lot Like Love----------------

No comments:

Post a Comment