Friday, October 23, 2009

Episode Berjalan

Api lilin kecil di hadapan kita bergoyang pelan. Tak hanya itu yang tersaji. Dua gelas red wine ikut menemani malam yang semakin larut. Gelas-gelas tak tersentuh itu, kita gantikan dengan dua gelas air putih. Untung saja cahaya temaram, sehingga kamu tak perlu tahu warna-warni mukaku. Memerah setiap kali memandangmu. Tapi aku bertekad, inilah merah yang terakhir. Satu lagu mengalun mencairkan kebekuan. Salah satu dari playlist favoritku. Menahun, ku tunggu kata-kata
Yang merangkum semua

Dan kini ku harap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

"Rasa itu masih ada ya?"
"Mmm, mungkin. Tapi kadarnya berbeda."

"Makin banyak atau makin sedikit?"
"Sialan. Memangnya kamu berharap yang mana?"

"Ha ha. Segitu besarnya?"

Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari

Rasa sakitmu

Rasa sakitku


"Hmm, aku nggak pengen suka sama pasangan orang lain. Itu terlarang."
"Gaya!"

"Biarin!"

"Kamu menyesal?"

"Untuk apa?"

"Untuk pernah menaruh hati dengan orang seperti aku."

"Konyol. Memangnya aku bisa memilih?"

Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran

Pedih adanya

Namun ini jawabnya


"Kamu tidak segigih dia."
"Apa harus begitu? Aku punya caraku sendiri."

"Setidaknya kamu berusaha."

"Bukan porsiku. Aku memilih mengabaikan perasaan ini. Ada yang jauh lebih berhak."

Reff: Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta

Karena kaulah satu yang kusayang

Dan tak layak kau didera


"Kamu menyerah?"
"Apaan sih. Saat itu cuma ada dua pilihan, menjadi egois ataukah mengeliminasi segala kemungkinan agar menjadi tidak mungkin."

"Kamu memilih yang kedua kan? Kenapa?"

"Karena hati kecilku tidak mengijinkan. Kalian berhak punya kesempatan tanpa aku datang merusak."

Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi

Tetapi apalah arti bersama, berdua

Namun semu semata


"Tapi kamu sakit sendiri kan?"

"Sempat sih. Tapi nggak lama kok. Aku punya kekuatan
recovery yang bagus."
"Dasar sok hebat. Jadi sekarang kamu baik-baik aja?"

"Yap! Sudah waktunya mengatakan ini."

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini

Tapi rasakan semua

Sebelum kau kulepas selamanya


"Apa?"
"Turut bahagia buat kalian berdua. Aku doakan yang terbaik."

"Terimakasih banyak."

"Itu gunanya teman."

"Memangnya kita berteman?"

"Haha. Iyalah, capek sudah pura-pura musuhin kamu."

"Kapok!"

Tak juga ku paksakan
Setitik pengertian

Bahwa ini adanya

Cinta yang tak lagi sama

"Eits, tunggu dulu. Boleh minta dua hal ya?"
"Banyak maunya!"

"Cuma dua kok. Yang pertama, jagakan dia untuk aku."

"Klise ah. Khas orang patah hati yang sok kuat."

"Sialan. Aku cuma memastikan kalau pengorbananku nggak sia-sia. Haha."

"Dasar pamrih. Terus apa yang keduanya?"

"Berjanjilah untuk selalu bahagia."

"Kamu sendiri?"

"Aku juga sudah memilih jalanku kok. Tenang saja."
"Baiklah, kita harus merasakan gembira yang sama."

Satu pelukan kecil. Mengakhiri pertemuan malam itu. Aku habiskan seluruh rasaku buat kamu. Karena chapter ini sudah harus diakhiri.
Terimakasih. =]

Back to Reff:


Dan kini ku berharap ku dimengerti

Walau sekali saja pelukku

No comments:

Post a Comment