Tuesday, August 18, 2009

Ajari Aku

Ajari Aku

oleh: Adrian Martadinata

Ajari aku 'tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu

Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
'tuk terangi jalan ku yang berliku

Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu
Hanya engkau yang mengerti, semua inginku

[ajari aku 'tuk bisa mencintaimu]
[ajari aku 'tuk bisa mengerti kamu]

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku 'tuk bisa mencintaimu

Saya selalu memohon pada Tuhan, kalau diijinkan saya bersedia setiap hari jatuh cinta. Karena kekuatan cinta sangat luar biasa. Saya bisa bangun tidur sambil melompat dari atas kasur. Yah, saya bahkan bisa menghilangkan mood yang fluktuatif akibat efek dari jatuh cinta. Gawat juga sih, karena tak jarang saya jadi senyum-senyum sendiri.

Baiklah, entah mulai kapan sampai sekarang ini saya menaruh rasa yang sama pada satu orang. Satu orang yang saya temui setiap hari. Satu orang yang tidak pernah menyadari keberadaan saya.

Ada tiga opsi yang saya berlakukan pada diri saya sendiri. Pertama, saya boleh saja menuruti perasaan ini. Saya bisa mencoba mencari perhatiannya. Mungkin dengan lewat-lewat di depannya atau bisa juga dengan sok-sokan bertanya ini dan itu. Minta diajarin begini dan begitu.

Mulai gencar mengirimkan sms. Kasih perhatian berlebih yang bisa membuat dia lari saking ketakutannya. Yeah, bisa kan dia mengira saya ini psikopat gila yang superduper agresif melancarkan serangan. Baiklah, opsi pertama lewat.

Opsi kedua, saya akan berusaha sekuat tenaga melawan perasaan saya. Ketika saya tahu ini semua tidak mungkin maka saya harus mematikannya secepat yang saya mampu.

Berhenti memikirkan tentang dia. Berhenti cari tahu semua tentang dia. Kalau perlu cari-cari terus kesalahannya biar muncul image negative yang siapa tahu sukses bikin saya ilfil. Daripada saya mencari jarum dalam tumpukan jerami mending cari pengalihan lain.

Opsi terakhir, nikmati saja apa yang saya rasakan selagi bisa. Heyy, jarang-jarang kan saya bisa jatuh hati padamu. Kalau saya pandai mengendalikan perasaan ini beres sudah. Saya bisa mencintai kamu tanpa takut terluka karena saya toh tak mengharap apa-apa.

Bilang saya sudah gila karena hanya sekedar ingin melihat kamu tertawa setiap hari. Bisa jadi dugaan itu benar. Kalau saya memang ingin menikmati perasaan ini saya nggak perlu repot-repot bikin kamu suka sama saya.

Jadilah saya terapkan peraturan nomor tiga. Saya bersedia menikmati perasaan ini. Konsekuensinya tidak boleh tunduk pada perasaan. Harus pandai membuat semua nampak biasa saja.

Satu dua tiga hari nggak ada masalah yang berarti. Apalagi interaksi kita juga hanya seperlunya saja. Celakanya saat saya sudah mulai melanggar aturan. Ini namanya dorongan atau godaan iman ya? Yang jelas saya sudah mulai berharap lebih.

Ingin membuat kamu mengerti bahwa saya sedang berusaha jadi yang terbaik. Meskipun saya bukan yang terbaik. Ingin berteriak di telingamu bilang kalau saya sebenarnya benci diri saya yang seperti ini.

Kadang-kadang saya pengen langsung disodorin lembaran berisi kriteria yang kamu mau. Biar saya bisa tahu apakah saya termasuk yang di dalam daftar tersebut. Kalau tidak kan bisa langsung mundur teratur.

Haha…lucu. Hanya karena seorang kamu jadi begini. Toh ujung-ujungnya saya jadi sakit sendiri. Kalau boleh memilih saya ingin hilang ditelan bumi saja. Dan nggak perlu bertemu kamu lagi.

*saya hanya mau belajar menjadi benar

No comments:

Post a Comment